Xin Chào, Ho Chi Minh City!

4/13/2018 02:00:00 AM

Akhirnya, terwujud juga rencana traveling ke Vietnam yang telah tertunda selama hampir setahun. Selain karena persiapan menikah dimana saya tentu saja lebih banyak galau menabung ketimbang traveling, saya sebenarnya juga menunggu dibukanya direct-route VietJet Air dari Jakarta ke Ho Chi Minh City (HCMC). 

Tan Son Nhat International Airport
Ya, direct-route Jakarta - HCMC selama ini dimonopoli oleh Vietnam Airlines yang merupakan maskapai "plat merah" dan punya codeshare penerbangan dengan Garuda Indonesia. Sebagai pemain utama wajar mereka pasang harga yang tinggi. Kehadiran Low Cost Airlines (LCC) macam VietJet Air akan menambah daya saing utamanya soal harga. Pembukaan rute ini justru bermula dari warga HCMC dan sejumlah travel agent disana. Bahkan sebenarnya mereka ingin menuju obyek wisata Indonesia dengan penerbangan langsung. Bukan transit ke Jakarta karena terlalu lama dan berbiaya mahal jika ke Bali atau Jogja harus mampir Jakarta dulu.

Courtesy of VietJet Air
VietJet Air adalah LCC milik milyuner wanita Nguyễn Thị Phương Thảo yang sedang banyak berekspansi di wilayah Asia Timur dan Tenggara. Seyogyanya maskapai ini akan mulai direct-route ke Jakarta terhitung 20 Desember 2017, dan hasil evaluasi rute tersebut selanjutnya akan digunakan untuk pembukaan rute ke Bali. Tapi sampai tulisan ini dipublikasikan, tak kunjung juga terealisasi direct-route tersebut. Terlebih setelah muncul banyak pro-kontra terkait kebijakan VietJet Air yang memang dalam promonya pernah melibatkan pramugari berbikini. Bahkan mereka menggelar Bikini Show diatas pesawat secara rutin. Pihak VietJet Air sendiri sudah berkali-kali menjelaskan bahwa bikini show hanya sebagai bonus di penerbangan rute domestik Vietnam dengan destinasi wisata pantai seperti Nha Trang. Silakan googling sendiri bagi yang penasaran! 

Boarding pass!
Pun begitu akhirnya saya tetap naik VietJet Air meskipun harus melalui Kuala Lumpur. Tentu saja bukan karena ngarep Bikini Show-nya. Bagaimanapun juga, VietJet Air punya harga yang lebih murah ketimbang maskapai lain dengan rute yang sama melalui Kuala Lumpur. Dan kebetulan juga punya jam terbang yang sesuai dengan kebutuhan saya. Berikut hasil perbandingan harga menurut Skyscanner.
Data pencarian Skyscanner
Selain direct-route Vietnam Airlines Jakarta - HCMC yang mahal, ada banyak opsi dengan rute transit. Sebutlah JetStar, Scoot, dan Singapore Airlines dengan transit di Singapore. AirAsia, Malindo Air, dan Malaysia Airlines melalui Kuala Lumpur. Atau bisa dengan maskapai kombo seperti saya. Menggunakan 2 maskapai untuk 2 rute berbeda. Oya, perjalanan Kuala Lumpur - HCMC memakan waktu 1 jam 55 menit dengan turbulensi yang lumayan banyak dibanding sektor ASEAN pada umumnya. Hampir sepanjang perjalanan, lampu indikator sabuk pengaman pesawat dinyalakan. Dan berulang kali mbak-mas flight attendant ini membatalkan atau menunda inflight service-nya.
 
Lovely crew!
VietJet Air Inflight Magazine
Xin Chào, Ho Chi Minh City!
Begitu landing saya bergegas menuju pos pemeriksaan dan imigrasi. Terlihat ramai dan antrian mengular. 8 deret pos imigrasi penuh dengan antrian turis sekitar 15-20 orang per-deret. Tapi ternyata tidak sampai 20 menit saya sudah nangkring di pos pemeriksaan. "Good afternoon, Sir"  saya menyapa sekaligus memberikan senyum terbaik sore itu. Pak Petugas hanya mengangguk sambil melirik sedikit. Paspor saya pun kemudian dicap tanpa pertanyaan atau sepatah kata dari Pak Petugas. "Thank you, Sir." Hening. Mungkin dia Limbad. Selepas pos imigrasi, suasana mendadak jadi lengang. Kemana perginya orang-orang? Saya lantas turun ke lantai bawah dan langsung guling-guling menuju conveyor belt untuk memungut koper. Begitu keluar dari conveyor belt, pemandangan langsung disambut oleh jejeran konter penukaran uang dan konter sim-card

Paska Imigrasi
Conveyor Belt
Di Tan Son Nhat International Airport, ada banyak loket penukaran uang dengan nilai tukar yang relatif tidak berbeda jauh satu sama lain. Sebagai informasi, Vietnam Dong (VND) memiliki nilai tukar yang lebih rendah dibanding USD dan Rupiah. Bila dikonversi, $USD 1 setara dengan 22.865 VND (per 21 Maret 2018), sedangkan 1 VND setara dengan Rp. 0,6. Meski begitu, di Vietnam tidak menerima penukaran langsung dari Rupiah. Ada baiknya kita membawa USD kemudian ditukar ke VND, atau menukar Rupiah ke VND di Indonesia. Banyak money changer di tanah air yang sudah menerima penukaran VND kok. Oya, apabila punya uang Ringgit Malaysia, tidak usah ditukar ke VND. Bawa saja, nanti bisa digunakan.

Counter Penukaran Uang
Sekedar tips, apabila menukar VND, mintalah pecahan uang beragam agar lebih mudah nanti dalam penggunaannya. Dan bagi yang ingin melakukan penarikan uang di bank internasional lewat mesin ATM, cek lagi ATM bank kalian. Sebab, selain biaya penarikannya yang cukup besar, beberapa mesin disini memiliki sistem PIN 4 digit yang berbeda dengan sistem PIN 6 digit yang digunakan di Indonesia .


Beberapa traveler lebih suka menjadi Fakir WiFi ketika berada di luar negeri dengan alasan berhemat. Tetapi, agar tetap bisa menjadi traveler yang elegan terhubung dengan media sosial dan memberikan kabar kepada handai taulan di tanah air, kita bisa membeli sim-card lokal. Ada banyak pilihan operator lokal dengan paket beragam, mulai dari paket internet dengan batasan kuota, unlimited, hingga bonus menelepon internasional. Beberapa di antaranya adalah Viettel, Vinaphone, dan Mobifone. Harga yang ditawarkan pun berbeda-beda, umumnya berkisar dari VND 140.000 hingga VND 400.000 untuk paket yang paling mahal. Tidak seperti biasanya, membeli sim-card disini secara harfiah kita hanya mendapat sim-card doang. Tidak seperti di bandara internasional lainnya, sim-card umumnya akan dipasangkan dan di-setting-kan, kita tinggal pakai. No! Disini kita yang membeli, kita juga yang harus repot memasang atau mengganti sim-cardnya. Untung tidak perlu setting macam-macam. LER!

Viettel 4G Sim-Card
Berdasarkan laman Contented Traveller, saya mendapat info sim-card paling recommended adalah Viettel, meskipun Vinaphone juga dapat menjadi alternatif yang menarik bagi para traveler. Kemudian juga himbauan bagi yang memilih Mobifone. Sebab, meskipun murah dan memberikan bonus kuota yang besar, kecepatan akses internetnya masih perlu dipertanyakan. Jadi ingat salah satu operator di tanah air. WKWKWK. Anyway, dari laman tadi juga disebutkan bahwa salah satu keunggulan Viettel ini bisa digunakan di Laos dan Kamboja. Mengingat saya juga akan pergi ke Kamboja, saya lantas menuju konter Viettel untuk membeli sim-card. Dengan mengunjungi konter yang nampak resmi setidaknya saya bisa bertemu SPG cantik bertanya-tanya dahulu terkait penggunaan di Kamboja.



Keluar dari hiruk pikuk bandara, cuaca panas langsung menyerbu. Mirip kesan pertama ketika tiba di Bangkok. Saya celingukan mencari Airport Bus 109. Ya, sejak 16 Maret 2016, Tan Son Nhat International Airport sudah punya Airport Bus resmi. Selain nyaman, bus ini juga mempunyai jam operasional yang cukup lama, dari pukul 05:30 pagi sampai pukul 00:30 dini hari. Umumnya bus ini mempunyai rotasi pemberangkatan tiap 15-20 menit sekali, dan menempuh total perjalanan 45 menit. Adapun rute dari Airport Bus 109 ini adalah sebagai berikut:


Jadi apabila kalian menginap di sekitar Bến Thành Market, Phạm Ngũ Lão, atau daerah disekitar District 1, gunakan saja bis ini. Hanya 20.000 VND atau setara dengan Rp 12.000 untuk sekali jalan. Jangan tertukar dengan Airport Bus 119 karena tujuannya jelas berbeda! Info lengkap mengenai Airport Bus 109 bisa klik disini.

Gotcha!
Lets hop in!
Tapi, bagi yang ingin berhemat dan merasakan petualangan di jalanan HCMC, bisa gunakan Bus 152 yang berwarna hijau. Bus ini merupakan bis lokal yang mempunyai rute dari Airport ke daerah sekitar District 1. Tiketnya hanya 5000 VND, dan perlu menambah 5000 VND lagi apabila tas/koper kita dirasa terlalu besar oleh kondekturnya. Bus ini beroperasi hanya sampai sebelum pukul 18:00. Bus 152 bisa ditemui di dekat Terminal Domestik di seberang Highlands Coffee, tidak seperti Airport Bus 109 yang memang nangkring di depan Terminal Internasional. Jadi ya kita perlu jalan sedikit ke arah Terminal Domestik.

Bus 152 (Courtesy of TripAdvisor)
Tapi, meskipun Bus 152 menawarkan harga yang murah, kita harus bergantung pada Google Maps atau aplikasi peta lainnya untuk tahu di mana kita harus berhenti. Tentu saja karena pengemudi dan kondekturnya banyak yang tidak paham bahasa Inggris. Berikut adalah interior dari Airport Bus 109 yang saya tumpangi.

Spacious and Free Wifi!
Route
Ticket
Airport Bus 109 ini menurut saya sangat nyaman. AC-nya sejuk, kondisi kabinnya bersih dan longgar. Senyaman bus-bus di Singapore atau Kuala Lumpurlah. Ada Free Wifi-nya juga. Memudahkan traveler seperti saya yang belum sempat mengganti/memasang sim-card yang baru dibeli. Kebanyakan penumpangnya sudah dipastikan adalah turis yang naik dari Terminal Internasional dan hendak menuju daerah Phạm Ngũ Lão. Oya, setir kendaraan di Vietnam ini berada di kiri, sehingga menggunakan lajur kanan jalan. Tidak seperti di Indonesia yang menggunakan setir kanan di lajur kiri jalan.


Kru Airport Bus 109 ini, baik kondektur maupun sopirnya, punya bekal bahasa Inggris basic yang lumayan. Sehingga kita bisa bertanya-tanya terkait lokasi pemberhentian kita. Memang tidak seperti di Wakanda, agak susah menemui warga Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Nyentriknya, meskipun sudah mempunyai pemberhentian yang ditentukan, kita bisa berhenti sembarangan selama itu masih dalam rute.


Saya harus mengapresiasi sopir bus saya ini. Tingkat kesabarannya itu lho. Heh, membelah jalanan semrawut penuh dengan pengendara motor, perlu lebih dari sekedar keahlian mengemudi. Kudu punya kesabaran tingkat tinggi! Lantas, hal yang menyebalkan tapi kelak justru terus saya rindukan dari semrawutnya jalanan HCMC adalah perihal MENYEBERANG. Ya, menyeberang di jalanan HCMC adalah hal tersulit kedua di dunia setelah usaha menemukan huruf "N" pada permen karet Yosan!

Bus 152 dikepung motor!
Bus 109 ini berhenti di halte pertama setelah bus berbelok di Lê Lai, dekat Hotel Asian Ruby. Tinggal menyeberang melalui Central Park of Saigon dan menyusuri jalan aman yang berlokasi di tengah-tengah Phạm Ngũ Lão ini nampak menjadi oase di tengah terik dan gerahnya HCMC. Banyak warga lokal yang menghabiskan waktu untuk sekedar duduk bersantai dan olahraga. Di beberapa pojok, nampak siswa-siswi lokal yang mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya dengan bule. Berikut jepretan sekenanya sambil lewat. Courtesy of handphone China berawalan huruf X!

Central Park of Saigon
Central Park of Saigon
Penginapan saya berada di daerah Bùi Viện yang masih berada di area Phạm Ngũ Lão. Phố đi bộ Bùi Viện atau dikenal juga dengan Bùi Viện Walking Street  adalah kawasan backpacker utama di Phạm Ngũ Lão dan HCMC pada umumnya. Di sini bisa kita temukan berbagai macam restoran, bar, toko suvenir, panti pijat, wanita penghibur, atraksi, minimarket, biro perjalanan dan tentu saja penginapan murah. Bagi yang tidak suka suara bising atau berisik saya sarankan jangan menginap disini, karena suasana "party" baru mulai reda selepas tengah malam tiap harinya. Saya pikir suasana ini mirip seperti Khaosan Road.

Sore di Bùi Viện
Bùi Viện
Saya menginap di Bali Boutique Hotel yang berada tepat di jantung Bùi Viện. Supaya meredam atmosfer nightlife-nya, saat check-in, saya meminta kamar yang berada di lantai atas dan berada di bagian belakang. Mas resepsionis yang melihat muka anak baik-baik pada diri saya, lantas memberikan kunci kamar 708 yang tentu saja berada lantai 7 dan berada bagian belakang hotel sehingga suasananya lebih tenang. Nah, bagi yang menghendaki tur, hotel ini juga menyediakan lho. Baik berupa grup-tur menuju destinasi seperti Củ Chi Tunnel atau Mekong Delta, maupun tur personal yang menggunakan sepeda motor di dalam kota. Jadi bisa reservasi langsung di lobi hotel. Oya, untuk tur ziarah Wali Songo tidak tersedia disini ya guys! 


Beberapa teman sebenarnya merekomendasikan Hongkong Kaiteki Hotel yang terkenal dengan pod/capsule room-nya. Selain murah, konon hotel ini banyak disinggahi oleh traveler dari tanah air. Lokasinya juga berada di Bùi Viện meskipun agak pinggir. Biasanya saya gampang kepincut dengan pod/capsule room, tetapi kali ini, selain karena preferensi Istri, saya juga membawa perlengkapan kamera. Lho kan biasanya juga bawa? Mengingat kriminalitas di HCMC ini agak lumayan, jadi ya saya hanya berjaga-jaga. Lagipula harganya tidak terpaut jauh kok, disini malah dapat sarapan gratis.

Bali Boutique Hotel
Klik disini untuk cari tahu lebih banyak soal Bali Boutique Hotel yang juga punya cabang di dekat Bến Thành Market. FYI, harga di situs booking penginapan jauh lebih murah daripada harga yang tertera di website resminya lho!

Pemandangan dari jendela kamar
Saya sempat bertanya pada resepsionis hotel mengapa banyak bendera Vietnam di sepanjang jalan. Setahu saya bukan peringatan hari kemerdekaan, dan timnas nasional Vietnam juga tidak sedang berlaga. Ternyata, mantan Perdana Menteri Vietnam yaitu Phan Van Khai meninggal dunia 17 Maret yang lalu. Dan besok, 22 Maret, setelah Pemakaman Kenegaraan, akan ada arak-arakan jenazah dari Independence Palace menuju tempat persemayaman sekaligus tempat lahir beliau yang berada di Distrik Củ Chi.

Screenshoot dari www.vneconomictimes.com
Sebagai tanda berduka nasional, bendera-bendera tersebut akan diikat dengan tali berwarna hitam. Beliau adalah "dalang" dari kebangkitan dan kenaikan ekonomi Vietnam. Selain pernah menjadi walikota Ho Chi Minh City, beliau merupakan Perdana Menteri pertama yang mengunjungi Amerika Serikat setelah berakhirnya perang antar dua negara tersebut.

Nah, ada beberapa rencana saya hari ini. Pertama update instagram menuju The Sinh Tourist untuk ikut tour Củ Chi Tunnel besok pagi. Mengapa saya tidak menggunakan layanan tour milik hotel saja? Jelas alasannya karena besok akan ada arak-arakan jenazah yang kemungkinan besar membuat jalanan ramai. Saya butuh mitra perjalanan yang benar-benar terpercaya dalam situasi seperti ini. Toh, kantor The Sinh Tourist tinggal jalan beberapa langkah dari hotel.

The Sinh Tourist
Saya ikut tour Củ Chi Tunnel 1/2 Day yang mulai pukul 07:15 dan selesai sekitar pukul 14:00. Tadinya sempat kepincut 1 Day Tour Củ Chi Tunnel berikut Mekong Delta. Tetapi karena selesai sekitar pukul 18:00, saya nanti tidak bisa banyak keliling kota untuk motret. Dan saya pikir naik sampan di sungai toh bisa dilakukan di Indonesia, tidak harus di Sungai Mekong. Harga tiket Củ Chi Tunnel 1/2 Day adalah 109.000 VND. 


Dari hasil browsing, besok dipastikan hampir semua warga HCMC akan menyaksikan arak-arakan jenazah mantan Perdana Menteri legendaris tersebut. Memilih ikut rombongan tour menurut saya adalah pilihan yang tepat. Naik kendaraan umum meskipun murah, akan sangat merepotkan ketika bebarengan dengan acara itu. Perlu diketahui, Củ Chi Tunnel terletak di sebelah barat laut HCMC sejauh ±50 kilometer. Dengan naik kendaraan umum, perlu setidaknya dua kali ganti bis untuk sampai sana. Fyuuh! Tapi bagi yang tertarik untuk berpetualang menggunakan kendaraan umum, di postingan berikutnya akan saya ceritakan juga kok!

Travel Voucher The Sinh Tourist
Setelah mendapatkan tiket ke Củ Chi Tunnel, saya berkeliling Phạm Ngũ Lão mencari agen bus tujuan Phnom Penh untuk esok lusa. Ada banyak pilihan bus menuju Phnom Penh. Beberapa rekomendasi yang saya dapat dari hasil browsing yaitu Giant Ibis, Mekong Express, dan Phuong Heng. Giant Ibis ini adalah favorit para bule karena bisnya bagus dan service-nya paling lengkap. Wifi onboard, complimentary snack dan juga ada fasilitas toilet. Giant Ibis perlu $18 sekali jalan. Mekong Express adalah pemain lama untuk jurusan ini, baik lokal maupun turis banyak juga menggunakan ini. Konon salah satu kekurangannya adalah armada busnya yang sudah agak uzur. Sekali jalan $14. 

Phuong Heng Bus Office
Dari laman Grasskode saya mendapat info tentang bus Phuong Heng. Agen bus yang baru memulai operasionalnya pada 2014 ini, punya banyak review positif dan harga yang cukup murah, $10 sekali jalan. Meskipun tiga agen bus ini lokasinya berdekatan, sudah jelas tujuan saya Phuong Heng. Info lengkap bus Phuong Heng bisa klik disini. Dan bagi yang berminat pada agen bus lain, bisa kunjungi laman Move to Cambodia pada tautan ini.

Tiket bus Phuong Heng
Terakhir dan merupakan hal yang paling penting tentu saja melahap bakmi kuah khas Vietnam, Phở! Phở autentik konon memang tidak mengandung pork atau lard, tapi bagi muslim seperti saya, preferensi halal menjadi pilihan utama. Ada beberapa rekomendasi Phở di sekitar Nguyễn An Ninh yang juga dikenal dengan Malaysian Street. Ya, HCMC adalah salah satu destinasi wisata utama bagi warga Malaysia. Di Malaysian Street ini banyak penjual makanan halal dan bahasa yang digunakan disepanjang jalan ini adalah bahasa Melayu. Bahkan pembayarannya menggunakan Ringgit Malaysia. Menarik bukan? Salah satu yang saya tuju di Malaysian Street ini adalah Halal Amin Phở Muslim. 

Halal Amin
Sayangnya hampir setengah jam mondar-mandir sembari menunggu, saya tidak juga mendapatkan kursi kosong. Saya buka aplikasi TripAdvisor dan voila! saya direkomendasikan menuju The Daun Restaurant yang rupanya sudah mendapatkan Certificate of Excellence 2015, 2016, dan 2017!
Pintu depan The Daun Restaurant
Recommended on TripAdvisor
The Daun Restaurant berada di kompleks pertokoan di belakang Bến Thành Market. Ketika hendak masuk, The Daun Restaurant ini dalam keadaan ramai. Saya memaksakan masuk karena sudah lapar. Benar saja beberapa orang sudah selesai dengan makannya dan hendak pergi. Kemudian ada bule gundul dan istrinya yang kesasar hendak ke Vibe Burger yang letaknya diatas restoran ini. Yasudah, langsung memesan Phở Bò alias Phở dengan kuah dan daging sapi.

Apakah karena saya sudah lapar dan belum mandi, tapi entah bagaimana ceritanya, ketika makan di Vietnam langsung, Phở Bò ini enaknya bukan main. Datang lengkap dengan garnish kumplit. Kuah beningnya suegeeer!


Saya pernah mencoba Halal Phở di Singapura beberapa waktu yang lalu, yang juga saya tulis di blog. Saya perhatikan, yang membedakan adalah garnish daun Ngo Gai. Garnish yang umum dalam Phở adalah daun basil, tauge, irisan cabe, dan jeruk nipis. Tapi di Vietnam sendiri biasanya wajib ditambahkan daun Ngo Gai. Daun Ngo Gai ini sebenarnya juga digunakan di beberapa masakan Thailand dan Malaysia.


Meski begitu, daun Ngo Gai sebenarnya bukan tumbuhan asli Vietnam atau Asia Tenggara. Asal-usulnya berada di Amerika tropis, termasuk Meksiko, Amerika Tengah dan Karibia. Dedaunan ini diperkenalkan ke India dan Asia Tenggara melalui kolonisasi dan perdagangan. 

Ngo Gai leaves a.k.a Mexican Coriander (Courtesy: fromofficetobeach.com)
Oya, Phở halal memang umumnya lebih mahal daripada Phở biasa. Di pinggir jalan bisa dijual bervariasi 35.000-60.000 VND. Di The Daun Restaurant, semangkok besar Phở dihargai 90.000 VND. Lumayan sih bedanya, tapi preferensi tetaplah preferensi, kawan. Jangan ragu!

Certificate of Excellence!
Selesai makan, membayar dan tak lupa saya mengucapkan "Cảm Ơn" (kahm uhn) meniru Mas-Mas penjaga Circle-K tiap ngasih kembalian. Ucapan terima kasih dalam bahasa Vietnam tadi langsung disambut Mbak Kasir dengan "Terimakasih, Abang!" dalam aksen melayu yang khas. Ah, saya seperti baru saja menyelesaikan santap malam di Alor Street Food!


Di sepanjang jalan, saya mulai melihat bendera Vietnam yang diikat dengan tali hitam. Sepertinya besok sepanjang jalan saya akan menemui bendera-bendera ini. Mengingat persemayaman juga akan di lakukan di Distrik Củ Chi. Melewati Central Park of Saigon saya melihat banyak warga lokal yang masih beraktifitas terutama memainkan Da Cau.

Girls playing Da Cau
Boys playing Da Cau
Da Cau (đá cầu) adalah salah satu olahraga nasional Vietnam yang populer. Dikenal dengan nama lain Jianzi, Da Cau adalah jenis olahraga yang umumnya dimainkan di lapangan bulu tangkis. Tetapi dapat dimainkan juga secara melingkar dengan beberapa pemain di jalan atau taman. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga shuttle-cock tidak jatuh ke tanah dengan menggunakan kaki. Seperti sepak takraw tapi menggunakan shuttle-cock khusus. Beberapa yang sudah ahli tampak menendang dengan akrobatik dan nyeni!
Shuttle-Cock Da Cau (Courtesy of entremielysushi.com)
Belum memasuki area Bùi Viện, masih di ujung saya mulai mendengar bunyi-bunyian dangdut koplo pantura house-music yang menghentak. Sepertinya party sudah dimulai. Semakin dekat semakin saya melihat bahwa suasana malam disini lebih ramai dan hidup. Hmm, jadi begini tho suasana nightlife di Bùi Viện. Memang yang haram-haram itu tampak nikmat dan menyenangkan sekali. Astaghfirullah!





Ho Chi Minh City Trip: Part 1 (You're here) | Part 2 | Part 3 

You Might Also Like

1 komentar

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.cc

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Instagram