Singapura dari Ujung ke Ujung: Sebuah Panduan (Part 2)

2/01/2019 02:40:00 AM


Do you recognize this button?

Aiyoh, why is Part 2 so long to publish? Dunno leh. I'm kinda lazy busy lah. But, thank you so much for waiting! Sooo, tentu saja tulisan ini akan melanjutkan bagian Part 1-nya. Dalam postingan sebelumnya, saya menyebutkan bahwa bagi saya Chinatown adalah center of universe-nya Singapore. Salah satu faktor pendukungnya adalah destinasi yang walkable distance. Contohnya jalan kaki ke Merlion cuma 1,4 km. Hey, 1,4 km itu sama dengan jarak Malioboro dari ujung ke ujung. See? Lagipula, berjalan kaki jauh merupakan sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan oleh orang Indonesia di luar negeri. Ya kaaan?


Itinerary Day #2

Meskipun Merlion berada dalam walkable distance, tapi hari ini kita belum kesana. Hari ini kita akan berkunjung ke destinasi yang tidak banyak dikunjungi pelancong Indonesia. Sebegitu perlunya saya mencetak tebal dan menggarisbawahi kalimat barusan. Oya, walaupun capsule pod yang saya inapi cukup kedap suara, sayup-sayup kita bisa mendengar adzan dari Masjid Jama'e Chulia. Bagi yang ingin melaksanakan sholat subuh, bisa langsung meluncur kesitu. Setelah menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid Jama'e Chulia (ingat, blog ini adalah blog syariah 😋) saya segera bergegas menyelesaikan urusan mandi, berdandan rapi selfie-selfie update instastory. Tujuan pertama kita pagi ini adalah Fort Canning Park!
 
Good morning, Chinatown!

Dari penginapan cukup jalan kaki sekitar 1 km. Atau bagi yang malas jalan kaki, bisa naik bus 124, 145, 147, 166, 290. 851, 851e, dari halte People's Pk Ctr di Eu Tong Sen street menuju Old Hill St Police Stn dan kurang dari 2 menit kalian sudah sampai tujuan. Enaknya jalan kaki, menuju Fort Canning Park bisa melalui Clarke Quay via Melacca/Read Bridge. FYI, Nightlife in Clarke Quay is what this party hub of Singapore is really famous. Any discussion about where to go for evening drinks in Singapore usually starts here. Jadi yang kepingin mabu-mabuan merasakan nightlife dan "party" di Singapore bisa datang kesini pada malam hari.

Clarke Quay via Melacca/Read Bridge
Clarke Quay
Empty Stroll
Clarke Quay pada pagi hari tentu saja berbanding terbalik saat malam hari. Clarke Quay akan sangat berwarna, penuh kerlip lampu, dentuman house music dan hiruk-pikuk nightlife pada umumnya. Saat pagi semua cafe, bar, diskotik, dan restoran tutup. Oh, wait, and there’s a Hooters! Tidak tahu Hooters? Astaghfirullah. Silakan googling, awas kena internet positif. Hahaha!


Clarke Quay dari Fort Canning Park
Fort Canning Park adalah bukit dengan luas sekitar 18 hektar. Tempat ini cukup historis karena Sir Thomas Stamford Raffles, sang founding father Singapura,
membangun kediamannya di sana. Tentu saja dengan bermukimnya Raffles disitu, maka banyak bangunan peninggalan kolonial Inggris yang saat ini masih tersisa. Selain historical site, dengan luas areanya Fort Canning Park bisa digunakan untuk berbagai macam aktivitas. Utamanya joging atau sekedar morning walk. Dan banyak sudut instagram-esque yang juga sering digunakan untuk pacaran sesi pemotretan serupa prewedding atau modelling.

Raffles House
Fort Canning Lighthouse
Selain itu terdapat juga Keramat Iskandar Shah. Keramat (Kuburan/Makam) Iskandar Shah adalah tempat suci yang didedikasikan untuk Iskandar Shah yang dipercaya sebagai orang yang sama dengan Parameswara. Parameswara adalah penguasa terakhir Singapura abad ke-14 sebelum ia melarikan diri ke Melaka untuk menghindari serangan dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Ayuthayya. Parameswara diyakini merupakan pangeran yang berasal dari Palembang (Kerajaan Sriwijaya).

Tomb of Prameswara (Courtesy Henrik Sundholm via Flickr)
Pada sisi utara Fort Canning Park, terdapat area hijau luas yang sering disebut dengan Fort Canning Green. Di lokasi ini sering diadakan konser dan karnaval outdoor. Padahal, faktanya area tersebut dulunya merupakan pemakaman bagi sekitar 600 kuburan kristiani. Beberapa batu nisan yang dihilangkan, ditempatkan pada dinding yang mengelilingi Fort Canning Green. Fort Canning Green juga berbatasan langsung dengan Fort Canning Arts Center yang dulunya adalah barak dari pasukan Angkatan Darat Inggris.


Fort Canning Green berlatar Gedung Fort Canning Art Center
Deretan nisan di dinding Fort Canning Green
Signage
PM Kanada, Justin Trudeau di Fort Canning Green (Courtesy of Justin Trudeau via Flickr)
Untuk memasuki Fort Canning Green terdapat dua Gothic Gates. Gerbang megah dengan gaya gothic ini dibangun pada tahun 1846. Huruf-huruf di atas kedua gerbang, "IHS" adalah iota, eta dan sigma, tiga huruf pertama dari kata Yunani untuk Yesus (IHΣΟΥΣ).


Gothic Gate
Di sudut timur laut Fort Canning Green juga terdapat 12 batu nisan yang konon merupakan pindahan dari Bukit Timah Cemetery. Sekilas mirip dengan Taman Prasasti di Jakarta ya?




Dari Gothic Gate yang dekat dengan 12 nisan ini, kita keluar dan menuju Fort Canning Road. Karena berbelakangan langsung National Museum of Singapore, kita tinggal menyeberang dan mencari sisi depan dari museum ini. 

Sisi belakang National Museum of Singapore
National Museum of Singapore
Oya, dalam jarak radius terjauh 300 meter dari National Museum of Singapore juga terdapat Singapore Art Museum, Peranakan Museum, The Gem Museum, dan Singapore Philatelic Museum. Bagi para Batmus alias Sahabat Museum silakan bisa mampir berkunjung. Jam kunjungan museum di Singapore adalah pukul 10:00-19:00. Satu lagi, bagi para penggemar Freemason, teori konspirasi, New World Order, dst, disekitar sini terdapat Freemason Hall di Coleman St, tidak jauh dari National Museum of Singapore.



Jika kamu pernah membaca buku-buku Dan Brown, tidak diragukan lagi setidaknya kamu akan menemukan beberapa referensi tentang Freemasonry dan Knights Templar. Freemasonry pertama kali didirikan di Singapura pada 8 Desember 1845. FYI, Sir Stamford Raffles, Bapak Pendiri Singapura, adalah seorang Freemason.

Closer look
Square & Compasses, widely known symbol of Freemasonry
Sebagian besar Freemason Hall memang tidak terbuka untuk umum. Akses terbatas diberikan hanya kepada anggota yang konon mencapai 750 orang. Tetapi ada restoran di lantai dasar yang tersedia untuk umum. Info lebih lengkap silakan kunjungi laman resmi Masonic Hall Board of Singapore (MHBS), silakan klik disini.

Bagian dalam Freemason Hall (Courtesy of expatliving.sg)
Dari National Museum of Singapore, kita berjalan sedikit menuju Singapore Management University (SMU), dari situ kita nongkrongin Halte Bus SMU dan menunggu bis 166. Yak kita akan beringsut ke Little India, lebih tepatnya ke tujuan utamanya Tekka Centre untuk sarapan!



Tekka Centre
Tekka Centre adalah bangunan pasar serba guna yang konon didirikan pada tahun 1915. Tentu saja selain hawker-nya Tekka Centre sebagai pasar mutifungsi juga menawarkan banyak hal seperti berbagai macam daging, sayuran, dan rempah-rempah di sisi pasar lantai pertama. Pada bagian sisi luar dan lantai atas terdapat toko elektronik, perhiasan, emas, bunga bahkan VCD Bollywood asli bukan bajakan!





Tujuan utama saya adalah Allaudin's Biryani yang berada di hawker Tekka Centre ini. Sejauh saya kulineran di Negeri Singa, hanya Biryani di Zam-Zam Singapore yang bisa menandingi keistimewaan dari Allaudin's Biryani ini. CMIIW.

Crowd Hawker
Yassss!
Chicken Briyani Set

Mutton (domba), Chicken maupun Fish Biryani semua berharga $5. Sayang hari ini Mutton Briyani belum siap, mungkin karena datang kepagian. Padahal Mutton Briyani di Allaudin's Biryani ini yang paling istimewa. Jadi, kali ini saya memesan Chicken Biryani yang datang dengan semangkuk kuah kari dengan semacam tetelan daging sapi.. Nah, bagi tidak menghendaki masakan Asia Selatan (India, Pakistan dll), di Tekka Centre juga tersedia menu masakan oriental, chinese food (mostly non-halal) dan ada beberapai kedai Melayu/Nusantara juga! Usai makan, saatnya kita berkeliling Little India. Mulailah dengan menuju Kerbau Road. Ada banyak petunjuk jalan kesana terutama signage bertuliskan Little India Art Belts.



Kalian tidak salah alamat yang benar apabila setelah melihat signage diatas, kalian akan disambut dengan mural Sapi/Kerbau berwarna-warni berikut.



Diujung Kerbau Road ini terdapat bangunan yang cukup ikonik di Little India. Bangunan berwarna-warni ini adalah Former House of Tan Teng Niah. Dibangun pada tahun 1900, bangunan ini merupakan vila Cina terakhir yang bertahan di Little India. 




Tan Teng Niah adalah seorang towkay (pengusaha Cina yang bereputasi baik) yang memiliki beberapa pabrik pembuatan permen di sepanjang Serangoon Road yang menggunakan tebu untuk produksinya.


House of Tan Teng Niah (Courtesy of Roots.sg)
Usai dari Tan Teng Niah, teruslah berjalan menyusuri Chander Road. Di pertigaan Jaggi's Northern Indian Cuisine ambil kanan menuju Belilios Road. Diujung jalan yang bersimpang langsung dengan ke Serangoon Road kita akan bertemu dengan Kuil Sri Veeramakaliamman.





Kuil Sri Veeramakaliamman adalah kuil pertama di Singapura yang didedikasikan untuk Veeramakaliamman atau Dewi Kali. Kuil ini awalnya dikenal dalam bahasa Tamil sebagai Soonambu Kambam Kovil atau “Temple of The Lime Village" kuil di desa kapur karena ditemukan tempat pengolahan batu kapur di daerah tersebut. Diyakini bahwa pekerja Tamil yang mengerjakan lubang kapur di Kampong Kapor mendirikan sebuah kuil (Shrine) yang didedikasikan untuk Veeramakaliamman di situs ini pada awal tahun 1855. Sebuah kuil (Temple) kemudian dibangun oleh buruh Bengali pada tahun 1881.



 

Seperti semua tempat peribadatan di Singapura, kita pun juga boleh berkunjung ke kuil sebagai turis. Dari Kuil Sri Veeramakaliamman saya beringsut menuju Masjid Abdul Gafoor. Masjid ini terletak di Dunloop St. Dari arah Kuil Sri Veeramakaliamman carilah arah menuju Komala Vilas Restaurant. Dunlop St berlokasi dekat dengan restoran populer ini. Oya, Komala Vilas adalah salah satu restoran vegetarian India tertua di Singapura sejak tahun 1947. Jadi, insyaAllah penduduk Little India paham dimana letaknya, ya, just in chase you need to ask the direction. Berikut ini adalah laporan pandangan mata selama perjalanan menuju Masjid Abdul Gafoor.










Kalau ada yang bertanya apakah sepanjang jalan ketemu dengan rombongan penari/penyanyi layaknya adegan film Bollywood? Jawabannya, TIDAK. Yakali ah pertanyaannya! Tapi datanglah ke Little India saat perayaan Deepavali, sekitar akhir Oktober atau awal November. Akan banyak kemeriahan, karnaval dan festival.
Masjid Abdul Gafoor
Masjid Abdul Gafoor dibangun pada tahun 1907 untuk menggantikan Masjid Dunlop Street yang awalnya terbuat dari pondasi kayu kecil pada tahun 1859. Menurut sejarah masjid ini berada daerah Kampong Kapor, yang berpenduduk sebagian besar terdiri dari imigran Muslim Bawaen dan Tamil. Banyak orang Bawean bekerja sebagai Syce (perawat kuda) dan pelatih kuda di bekas arena pacuan kuda didekat Farrer Park. Sedangkan Muslim Tamil sebagian besar berdagang dan melakukan bisnis di daerah ini. Yak, migran muslim Bawean ini tidak lain adalah perantau dari Pulau Bawean. FYI, Pulau Bawean ini berada di Jawa Timur, tepatnya 120 km utara kota Surabaya.


Bule Bergamis
Dari Masjid Abdul Gafoor, berjalanlah ke simpang Perak Rd. Tepatnya Restoran Maju 65 ambil kiri. Ketemu jalan raya besar yaitu Sungei Rd ambil kanan, dekat situ ada halte. Dari halte Opp Rochor Stn tersebut naiklah bis 980 menuju halte Opp St. John HQ di Beach Rd. Turun dari halte kita langsung akan disambut oleh Masjid Hajjah Fatimah. Dikarenakan saya pernah melaksanakan ibadah sholat Jumat di Masjid Sultan, untuk kali ini saya hendak melaksanakannya di Masjid Hajjah Fatimah yang juga masih berada di area Kampong Glam.




Masjid Hajjah Fatimah adalah salah satu masjid tertua di Singapura. Arsitektur eklektiknya yang unik menonjol dari masjid-masjid lain di Singapura, terutama dengan menara bergaya Eropa yang agak miring. Its combines both Indo-Islamic with European features in its architecture!


 
Masjid ini dirancang oleh arsitek Inggris yang tidak disebutkan namanya. Beberapa info mengatakan bahwa menara ini dirancang oleh John Turnbull Thomson karena arsitektur menaranya dianggap memiliki kesamaan dengan desain menara pertama Saint Andrew Church, namun tidak ada bukti otentik yang mengkonfirmasi hal ini. Sejarah lengkap bisa kamu baca di Roots.sg. Oya, sama dengan Masjid Sultan, di Masjid Hajjah Fatimah ini khutbah Jumat dibacakan dalam bahasa Melayu.



Dari Masjid Hajjah Fatimah saya menyeberang Beach Rd menuju stasiun MRT Nicchol Highway. Naiklah MRT Circle Line menuju stasiun Dakota. Keluarlah menuju pintu keluar Exit A. Dari situ naik Bus 33 menuju halte Aft Koon Seng Rd. Perhatikan sisi kiri-kanan, salah satu indikator kamu akan sampai halte tersebut adalah deretan rumah dengan eksterior khas peranakan yang memang menjadi daya tarik utama daerah Katong. Halte Aft Koon Seng Rd berada di Tembeling Rd yang persis berada di sisi kiri setelah bus berbelok kiri melewati Rumah Peranakan tersebut. Oya, bagi yang tidak sempat main-main ke Katong, replika rumah-rumah Peranakan ini juga bisa ditemui di Terminal 4 Changi lho!


Peranakan House (Sisi Kiri)

Peranakan House (Sisi Kanan)

Di Singapura, warisan budaya Peranakan terawat dengan baik di Katong/Joo Chiat. Tak hanya bentuk fisik bangunan tapi di daerah ini pulalah asal mula dari Laksa Singapora yang termasyur itu. Inilah tujuan utama saya berkunjung ke daerah East Coast demi mampir ke kedai 328 Katong Laksa. Kedai ini disebut-sebut sebagai salah satu restoran laksa terbaik di Singapura. Bahkan sekelas Gordon Ramsay datang jauh-jauh dan kemudian mengakui kenikmatan dan uniknya rasa dari mi kuah khas Singapura tersebut.
 
Gordon Ramsay (Courtesy Shirly Hamra via Flickr)



Screenshoot dari Google Street View



Laksa (Small) + Fresh Lime Juice
Menu
Yak, laksa akan disajikan dengan mangkok yang berbeda warna sesuai ukurannya. Large biasanya disajikan dengan mangkuk merah. Oya, Otah ini adalah fish cake serupa otak-otak di tanah air. Satu Otah seharga $1.40. 
 
Laksa (Large) + Otah + Fresh Lime Juice

Dari 328 Katong Laksa, saya akan melanjutkan perjalanan ke Changi Village yang persis berada di utara Bandara Changi sekaligus menjadi ujung paling timur dan utara dari Singapura. Oya, sekitar 100 meter dari 328 Katong Laksa, terdapat kuil Sri Senpaga Vinayagar pada sisi kiri Ceylon Rd. Bagi yang mau nambah stok foto bisa meluangkan waktu kesitu. Cukup instagramable dan lumayanlah buat ngisi instastory kalian!

Kuil Sri Senpaga Vinayagar
Kembali soal Changi Village. Dari 328 Katong Laksa Berjalanlah menyeberang Ceylon Rd dan tetap di East Coast Rd menuju halte bis yang dekat dengan warung Nasi Padang Kartika Jaya. Dari halte Opp Roxy Sq naik bis 12, 14 atau 47 menuju halte Tanah Merah Stn Exit A. Dari situ menyeberang ke halte Tanah Merah Stn Exit B. 

Bus 14
Bus 2
Dari Tanah Merah Stn Exit B naik bis 2 atau 9 menuju Changi Village. Bus 2 akan mengantar sampai halte dekat Changi Village Rd, sedang Bus 9 akan mengantar jauh sampai Changi Beach Park. Tujuan saya di Changi Village tidak lain adalah berburu sunset di Changi Point Coastal Walk!

Instastory Mode :p
Changi Point Coastal Walk atau kadang hanya disebut Changi Broadwalk, membentang sekitar 2,2 km di sepanjang garis pantai. Ya, Singapura juga punya pemandangan pantai menawan selain yang biasa kalian temui di Siloso Beach Sentosa. Bahkan, Changi Beach bisa memberikan pemandangan jauh keluar menuju Johor. Coba dadah-dadah saja kearah sana siapa tahu ada Siti Nurhaliza!




 



Ada beberapa titik masuk ke Changi Point Coastal Walk. Yang termudah adalah di sebelah Terminal Changi Ferry Point, terminal feri yang sama di mana kita bisa naik bumboat ke Pulau Ubin. Di seberang terminal ferry terdapat lahan menyerupai pulau kecil yang disebut dengan Changi Beach Park (area hijau di Google Map).


Terminal Ferry
Changi Beach Park adalah salah satu area pesisir tertua di Singapura. Area sepanjang 3,3 km ini membentang dari Terminal Ferry Changi ke Changi Point, menawarkan jogging-track, in-line skate, dan trek sepeda dengan pemandangan pantai, termasuk Pulau Ubin. Selain tersedia fitness corner tentu saja Changi Beach Park menyediakan pantai untuk berenang dan memancing.





Changi Beach biasanya akan ramai saat akhir pekan terutama saat pagi dan sore. Saat weekday umumnya ya sepi, cuma nampak beberapa Singaporean yang ada disitu. Oya, bagi yang malas berjalan kaki, Changi Beach Park juga menyewakan sepeda untuk digunakan berkeliling.



Di ujung Changi Beach, Coastal End terdapat sebuah monumen/patung jari yang cukup ikonik. Monumen/Patung tangan teracung ini merupakan karya Lim Soo Ngee pada tahun 2016 yang bernama Inscription of the Island dan sempat dipamerkan di Singapore National Museum.


 Okay, without further ado, here's the sunset I am waiting for.



Usai menuntaskan hasrat ke-indie-an dengan berburu matahari terbenam saat senja, saya beringsut pulang. Saya berjalan menuju Loyang Ave. Dari halte manapun di Loyang Ave, kita bisa naik bis 9, 19, 59 menuju halte Blk 390/Opp Tampines JC. Kemudian turunlah ke stasiun MRT Tampines East. Naiklah MRT Downtown Line tersebut menuju Chinatown. Sesampainya di Chinatown saya menuju daerah Ann Siang Hill untuk makan malam di Tok Tok. 

Ann Siang Hill
Tok Tok yang berjargon Authentic Indonesian Soup House ini memang semacam "warteg"-nya Chinatown. Pokoknya segala atmosfer warteg yang umum dijumpai di tanah air, bisa kamu rasain disini kecuali ngebon alias ngutang, nampaknya layanan ini tidak tersedia di Singapura.


Mohon maaf apabila kebanyakan fotonya dalam Instastory Mode. Maklum, kadang hasrat ingin pamernya masih gede, yah, namanya juga orang Indonesia. Bagi yang penasaran dengan Tok Tok, bisa langsung klik disini. Oya, saya memesan Nasi Campur Bali yang isinya Nasi Dendeng Balado, Rendang Bali, Ayam Suwir Pedas, Telor Balado, Orek Tempe, Tumis Kacang Panjang dan Sate Pedas.

Nasi Campur Bali
Citarasa Nusantara!
"Layar Sentuh" khas Warteg
Menu
Nah, bagian depan dari Tok Tok ini diambil pada siang hari berikutnya.

Tok Tok
Nah, kabar gembira bagi sobat misqueen yang agak keberatan dengan harga di Tok Tok yang rata-rata diatas $9 barangkali bisa beringsut ke Maxwell Food Centre. Langganan saya ada dua stall disana yaitu Barakkath Excellent Biryani Muslim Food dan Hajmeer Kwaja Muslim Food. Namanya hwarker ya masih di kisaran SGD$5 jadi cukup hemat agar tidak SmackQueen Misqueen dan lebih aman di kantong



Sekian perjalanan panjang ke barat mencari kitab suci hari kedua mengunjungi destinasi yang (anggapan saya) tidak banyak dikunjungi pelancong Indonesia. Sekedar referensi bahwa Singapura tidak melulu itu-itu saja. Jadi, hari pertama sudah saya habiskan di area Selatan, hari kedua menjelajah area Timur. Besok kita akan berkunjung ke Barat dan Utara.




Bersambung ke Part-3...

You Might Also Like

1 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Instagram