Singapura dari Ujung ke Ujung: Sebuah Panduan (Part 1)

12/17/2018 11:44:00 PM

Merlion-nya lagi haus!
Sebagai negara tetangga terdekat Indonesia, Singapura adalah destinasi yang cukup murah mudah bagi pelancong Indonesia untuk didatangi. Dari sekian banyak itinerary ke Singapura, tidak banyak yang menceritakan "keseluruhan" Singapura. Kebanyakan melulu Merlion, Universal Studio cuman numpang foto di depannya doang engga masuk karena tiketnya mahal, Orchard Road, Bugis dan hal-hal lain yang lumrah dilakukan pelancong Indonesia. Nah, di postingan ini, saya akan mencoba melancong ke Singapura dari ujung ke ujung. Postingan ini akan berusaha membahas secara komprehensif berdasarkan sudut pandang perjalanan saya.


Flight

Hal yang perlu diperhatikan ketika melancong ke Singapura adalah uang timing. Ya, dengan pengaturan waktu yang baik timing, kita bisa menikmati Singapura dengan sebenar-benarnya. Saran saya, bila menuju Singapura melalui jalur udara, carilah jadwal penerbangan terpagi. The earlier you make your flight, the better your chances exploring Singapore. Sebagai contoh adalah penerbangan Singapore Airlines SQ951 yang berangkat pukul 05:25 WIB dari Jakarta dan mendarat di Bandara Changi pukul 08:10 SGT.

SQ951
Bagi pelancong yang menginginkan opsi tarif lebih murah bisa menggunakan Garuda Indonesia GA824 (06:10-09:00) atau Lion Air Lion Air JT152 (06:15-09:00). Sebenarnya ada opsi AirAsia QZ262 (07:00-09:55). Tetapi sejak AirAsia pindah ke Terminal 4 (T4) Changi, saya sering menghindarinya. Alasannya, transfer dari T4 ke T2 yang menggunakan bus kadang saya rasa kurang praktis. Meskipun sebenarnya rotasi bus intra-terminalnya juga tergolong cepat sih. Tapi saya lebih suka opsi yang langsung menuju T2 atau T3. Tidak lain karena stasiun MRT menuju pusat kota berada diantara T2 dan T3 Changi. Kebetulan Singapore Airlines, Garuda Indonesia dan Lion Air parkirnya di Terminal 3. Untuk akses T2 ada Scoot dan SilkAir.



Transportasi

Sebenarnya ada banyak pilihan transportasi publik dari Bandara Changi menuju pusat kota. Ada Mass Rapid Transportation (MRT), bis dan taksi. Tapi saya menyarankan untuk menggunakan MRT karena di Indonesia belum ada alasan efisiensi waktu. 

Stasiun MRT Changi
Oya, untuk menggunakan transportasi publik di Singapura, semua sistem pembayarannya menggunakan kartu elektronik, mirip penggunakan e-money di tanah air. Tap and go! Maka gunakan Singapore Tourist Pass (STP), EZ-Link atau beli tiket standar dengan cara ngecer alias tiap mau pergi beli dulu. Ada beberapa keuntungan dan kelemahan dari kartu-kartu pembayaran ini.

Singapore Tourist Pass
STP termasuk salah satu yang digemari oleh pelancong. Kartu ini bisa digunakan untuk sejumlah bis umum dan MRT/LRT secara unlimited dengan sistem sewa 1-Day Pass $10, 2-Day Pass $16, 3-Day Pass $20, dengan biaya deposit $10. STP berlaku sejak mulai digunakan, sederhananya, menyewa STP pada hari Senin pukul 18:00, maka untuk 1-Day Pass akan berakhir pada hari itu juga tepat saat jam operasional transporasi publik berhenti. 2-Day pass berakhir Selasa malam, dan 3-Day Pass  berakhir Rabu malam. Oya, menariknya, jika STP dikembalikan dalam rentang maksimal 5 hari setelah pembelian, uang deposit $10 akan dikembalikan. Info lengkap STP bisa klik disini.

EZ-Link
EZ-Link adalah kartu perjalanan yang paling umum digunakan oleh penduduk Singapore dan pelancong yang sering bolak-balik ke Singapore. Harga EZ-Link sekitar $12 yang terdiri dari nilai $7 + $5 deposit yang tidak dapat dikembalikan. Pengguna juga harus mempertahankan saldo minimum $3 di EZ-Link agar terus dapat naik MRT dan bus. Jumlah top-up minimum adalah $10. EZ-Link dapat digunakan di MRT/LRT, sebagian besar bus umum, taksi SMRT & TransCab, gerai F&B, dan lain-lain termasuk Sentosa Express. EZ-Link berlaku selama 5 tahun sejak tanggal pembelian. Klik disini untuk info lengkapnya.

Standard Ticket (Courtesy of Polly Heartie via Flickr)
Standard Ticket adalah tiket perjalanan tunggal. Kebanyakan pelancong yang menggunakan ini karena mereka miskin enggan berurusan dengan sistem sewa STP yang terikat watu atau tidak memerlukan layanan jangka panjang EZ Link. Perlu diketahui bahwa tiket ini hanya dapat digunakan untuk MRT/LRT. Jadi kalian tidak bisa naik bis dengan tiket ini. Harga tiket ini adalah penjumlahan dari biaya satu kali perjalanan + deposit $0,10. Tiket Standar dapat digunakan kembali hingga 6 kali dalam 30 hari. Oya, sebagai informasi, biaya perjalanan menggunakan Tiket Standar cenderung lebih mahal dibanding menggunakan EZ-Link. 


Akomodasi

Setelah transportasi, maka selanjutnya adalah akomodasi penginapan. Menginap dimana baiknya di Singapura? Setelah bolak-balik dan menginap dibanyak lokasi, pilihan saya adalah Chinatown. Secara pribadi saya katakan Chinatown adalah center of the universe-nya Singapore. Navigasi dari Chinatown ini kemana-mana gampang baik MRT, bis maupun jalan kaki. Bagi muslim seperti saya, tersedia banyak makanan halal dan juga ada Masjid Jamae Chulia. Selain itu, tidak perlu tergesa-gesa atau repot membeli oleh-oleh, karena di Chinatown Market tersedia segambreng kedai penjual souvenir dengan harga yang umumnya lebih miring daripada lokasi lain!



Ada banyak pilihan akomodasi di Chinatown, tapi langganan saya adalah Capsule Pod Boutique Hostel yang berada di 38 Upper Cross Street. Alasannya, tentu selain karena Capsule/Pod-nya, kebersihan dan keramahannya tiada duanya, bisa dibandingkan dengan hostel lain di Singapore. Penginapan ini juga mudah dicari karena menjadi satu-satunya bangunan berwarna merah brick-red di sepanjang Upper Cross Street. Serta nilai plus lainnya yaitu keberadaan halte bus di depan hotel!


Aight, you can see it!
Umumnya, check-in time di sekitar Chinatown dimulai pukul 15:00 SGT. Dan merupakan hal yang sangat sulit untuk melakukan early check-in. Tapi disini, meskipun saya datang pagi, saya bisa melakukan check-in awal dan menitipkan tas/koper saya terlebih dahulu. Tentu saja kita belum boleh masuk ke kamar. Tapi setidaknya tas kita bisa dititipkan dan mengurangi beban jalan-jalan. Ketika nanti malam kita kembali ke penginapan dan mengkonfirmasi check-in secara proper, kita tinggal menuju ke pod kita dan voila! tas/koper kita sudah berada disana. Enak tho? Klik disini untuk info lengkapnya.


Pod Room 1
Pod Room 2


Koneksi Internet


Ya demi pemenuhan kebutuhan kehidupan era informatika, kita memerlukan koneksi internet untuk pamer jalan-jalan komunikasi dengan orang-orang terkasih di tanah air. Sebenarnya di Singapura sudah begitu banyak free wifi yang memungkinkan kita bisa terkoneksi setiap saat. Bahkan, di Siloso Beach, Sentosa, di sekitar Ola Beach Club, kita bisa duduk santai dibawah pohon kelapa memandang bule berbikini pantai pasir putih dengan mendapat limpahan sinyal dari Batam terutama untuk operator nasional berwarna merah!


Siloso Beach, depan Ola Beach Club
Tapi, bagi yang tidak ingin hanya mengandalkan free wifi, bisa membeli simcard lokal. Banyak tersedia tourist simcard di Changi yang bisa dibeli dengan segala kemudahan penggunaan. Salah satu yang recommended adalah M1 Tourist Simcard. Seharga $12 dengan kuota 100GB untuk 7 hari penggunaan. Ya, kuotanya 100GB, guys!



Trik lain adalah membeli kartu M1 di 7-Eleven, bukan tourist simcard, seharga $5. Berisi kuota 500 MB. Dan bisa diisi ulang sesuai kebutuhan yaitu 3-days plan 100MB $2, 1GB$5 atau 7-days plan 10MB $1, 1GB $7, dan 2GB $10. Monggo silakan dipilih. 

Dollar Singapura
Oke, setelah masalah utama yaitu penerbangan, transportasi, akomodasi dan komunikasi selesai, mari lanjut ke pembahasan utamanya yaitu itinerary. Hmm, soal penukaran uang tidak perlu saya bahas ya. Hanya berpesan untuk menghindari menukar Rupiah di Singapura karena nilai tukarnya cukup rendah. Silakan tukarkan di money changer sewaktu masih di tanah air atau tarik tunai ATM ketika sampai di Singapura.


Itinerary Day #1

Pesawat Singapore Airlines SQ951 tiba di Bandara Changi pukul 08:10 SGT (Singapore Time). Inbound flight ini jarang sekali delay. Oya, mulai Oktober 2018, akan mulai disosialisasikan masuk ke Singapura harus lapor via online. Melalui laman resmi Immigration and Checkpoints Authority (ICA), diterangkan bahwa sistem yang dinamakan Electronic Arrival Card ini berlaku bagi foreign passenger (penumpang mancanegara) untuk mengisi keterangan yang sebelumnya ada di kartu kedatangan. Seperti nama lengkap, nomor paspor, tempat tinggal selama di Singapura, durasi kunjungan dan informasi lainnya.



Jadi, nantinya masuk Singapore tidak akan lagi mengisi Kartu Kedatangan seperti pada umumnya selama ini. Hanya saja, tahap sosialisasi dan percobaan akan dilaksanakan selama tiga bulan mulai bulan Oktober. Silakan kunjungi laman resmi Immigration and Checkpoints Authority (ICA) untuk info lengkapnya.

But first, breakfast! Selepas pos imigrasi di Terminal 3 Changi, tepatnya di area publik sebelum menuju stasiun MRT, saya menyediakan waktu sebentar untuk mampir di Heavenly Wang. Signature dish mereka yaitu Mee Siam sayang sekali untuk di lewatkan. Eits, mereka mengantongi Halal Certified kok!

Area publik T3 Changi
Heavenly Wang menjual aneka hidangan khas peranakan. Selain signature dish Mee Siam, mereka juga menjual Laksa, Mee Soto, Ah Ma Mian dan rupa-rupa Kaya Toast tak lupa kopi dan teh. Semangkok "mie" tadi cuma $5.80 saja. Kalau lengkap, full set, dengan toast + kopi/teh jadi $7.80. Saya menyarankan Mee Siam atau Kaya Toast + Kopi/Teh saja, untuk laksa baiknya nanti kita mampir ke pusatnya. Oya, kabar gembira bagi AirAsiawan dan AirAsiawati, Heavenly Wang juga ada di T4!


Heavenly Wang T3
Mee Siam Set (dalam mode instastory!)

Sekitar pukul 09:00 saya sudah menyelesaikan sarapan dan beringsut menuju stasiun MRT Changi. Dikarenakan saya adalah pengguna EZ-Link, maka biasanya saya top-up terlebih dahulu. Bagi yang belum punya, bisa membeli di Ticketing Office yang berada di pojok stasiun MRT ini. Oya, jalur MRT Singapore ini terbagi dalam jalur-jalur yang dibedakan berdasarkan warna-warna.


Peta MRT
MRT Changi hanya akan membawa kalian ke stasiun Tanah Merah. Jika kalian menginap di sekitar Lavender atau Bugis, dari stasiun Tanah Merah gantilah ke jalur hijau East West Line menuju Tuas Link/Joo Koon, jangan tertukar arah ke Pasir Ris! Karena tujuan saya ke Chinatown, saya tidak turun di Tanah Merah. Saya turun di Expo dan ambil jalur biru Downtown Line menuju Chinatown. Untuk jam ketibaan lain, meskipun tujuan ke Chinatown, seringkali saya naik MRT sampai Bugis terlebih dahulu. Menyempatkan brunch di hawker Albert Centre kemudian dilanjutkan naik bus 851 ke Chinatown, turun di depan penginapan!

Bus 851
Usai menitipkan tas di penginapan, saya bergegas menuju Sentosa Island. Kenapa tidak langsung ke Merlion seperti umumnya pelancong Indonesia? Mending kesana pas pagi, menikmati sunrise sekaligus suasana masih sepi turis. Mau foto bergaya apa saja bisa! Oya, saya memang menyediakan waktu yang cukup longgar di Sentosa Island. Ada banyak hal menyenangkan disana yang rasanya sayang jika hanya dihabiskan sesaat hanya untuk berfoto saja. Tapi sekali lagi itu preferensi pribadi saya ya. Saya ambil jalur ungu North East Line menuju Harbourfront. Sentosa Island diakses menggunakan kereta monorail Sentosa Express yang stasiun pemberangkatannya berada di lantai 3 Vivo City Mall. Stasiun MRT Harbourfront berada persis dibawah mall ini.


Tiket Sentosa Express seharga $4. Bisa dibeli langsung atau bagi penggua EZ-Link tinggal tap di pintu masuknya. Bagi yang ingin berhemat, bisa jalan kaki menyusuri Sentosa Boardwalk sepanjang 545 meter. Tapi jalan kaki pun rupanya tidak gratis, tetap harus membayar $1. Oya, jarak 545 meter tersebut adalah panjang Sentosa Broadwalk. Apabila ditambah jarak dari Harbourfront, ya sekitar 1 km.


Apabila naik Sentosa Express, turunlah di Waterfront Station. Tempat ini adalah pintu masuk menuju Universal Studio. Bagi yang jalan kaki, ikutilah Sentosa Broadwalk sampai mentok, kemudian dari Trick Eye Museum ambil kanan.

Waterfront Station
Universal Studio Globe
Dikarenakan hari menjelang siang dan cuaca terik Singapura tidak bersahabat bagi kulit tropis, maka lebih baik gunakan waktu untuk kunjungan ke atraksi indoor. Ada banyak pilihan di Resort World Sentosa ini. Dari S.E.A Aquarium, Madame Tussauds Museum sampai rupa-rupa Kasino. Tapi bukan Kasino temennya Dono dan Indro, Kasino tempat menguji keberuntungan alias judi. Hari itu pilihan saya adalah menjadi dewa judi seperti Chow Yun Fat mengunjungi Madame Tussauds Museum. Itu lho museum yang berisi patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal. Saya mau berfoto dengan patung Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno.

Maaf, narsis dikit
Kalau berfoto dengan semua koleksi patung, lengkap dengan antrian fotonya, Madame Tussauds bisa rampung dalam 1-2 jam tergantung seberapa lama kamu gemes sama patung Taylor Swift menghabiskan waktu berfoto. Oya, tiket Madame Tussauds bisa dibeli langsung di loketnya, atau bisa beli dulu di tanah air melalui situs travel-booking serupa T*raveloka atau K*look yang biasanya banyak promo. Selesai dari Madame Tussauds bisa langsung turun menuju Beach Station atau memutar lewat Sentosa Merlion jika ingin berfoto dahulu dengan Merlion yang lebih besar dari yang ada di Marina Bay! Eh, sungguh, Sentosa Merlion ini adalah patung Merlion yang paling besar di Singapura. FYI, di seantero negara ini, officially, total ada 5 buah patung Merlion lho!

Marrybrown!
Ada banyak pilihan makanan halal di Sentosa. Kebanyakan memang sedikit pricey, jadi pintar-pintarlah memilih. Pilihan saya biasanya ke Marrybrown dan memesan Lucky Plate, berisi 2 ayam, sepotong roti, coleslaw, mashed potato dan segelas minuman soda. Bagi yang harus makan nasi, tersedia menu dengan nasi juga kok! Usai makan, saatnya beribadah. Mushola ada di area basement Beach Station. Bisa turun menggunakan eskalator dari Beach Station, atau dari Marrybrown turun ke arah Wings of Time ambil kiri dan ikutilah jalan setapak. 

Prayer Room
Prayer Room ini terpisah laki-laki dan perempuan. Untuk bagian laki-laki tersedia sarung, tasbih, Qur'an dan wangi-wangian. Tempat wudhu ada dibagian luar sisi samping kiri. Dikarenakan suasana masih cukup terik, mari berkunjung ke sisi Sentosa yang agak teduh sekaligus belajar sejarah. Mari beringsut ke ujung barat pulau menuju Fort Siloso.

Entrance
Pemandangan Keppel Bay dari Skywalk
Fort Siloso dibangun pada akhir abad ke-19. Pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869, memudahkan pelayaran dari Eropa menuju Asia memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan perdagangan di Singapura. Sebagai pelabuhan perdagangan penting bagi Inggris, maka diperlukan pembangunan sebuah benteng untuk melindungi Singapura dari invasi laut. Berdasarkan laporan Mayor Edward Lake dari Royal Engineers, sebuah benteng dibangun di Pulau Blakang Mati (Sentosa) pada tahun 1874. Sebagai bagian dari sebuah benteng pertahanan, puncak Gunung Siloso diratakan untuk pemasangan berbagai platform senjata terutama meriam.



Namun, selama Perang Dunia II, pasukan Jepang menyerbu Singapura melalui jalur darat dari arah Malaysia. Inggris kemudian untuk mengubah arah senjata Fort Siloso ke daratan untuk membantu mendukung pasukan darat yang mempertahankan Singapura dari invasi.




Benteng ini sangat cocok didatangi oleh para penggemar klub sepakbola Arsenal pecinta sejarah yang hendak menelusuri sejarah Inggris di Singapura. Dari Fort Siloso, besok saya akan meneruskan wisata sejarah ke Fort Canning Park, dimana Sir Thomas Stamford Raffles membangun tempat tinggal disana.



Bagi yang ingin mengunjungi Fort Siloso tapi malas berjalan kaki sejauh 1,4 km dari Beach Station, tersedia Sentosa Bus A yang berwarna orange. Naiklah dari Beach Station, gratis kok! Saya memilih jalan kaki, selain mampir sebentar di Siloso Beach untuk menelepon ke tanah air, saya sedikitnya hendak menikmati secuil keindahan dan sepoi angin pantai pasir putih di Sentosa. Halah!

Bus A (Courtesy of landtransportguru.net)
Usai berwisata sejarah saatnya menuju daya tarik utama yang merupakan candu di Sentosa bagi saya: Luge. Sesuai dengan jargon-nya, Luge memang "Once is never enough" setidaknya kudu 2x naiklah biar puas. Lagipula memang ada 2 rute yang membentang di sirkuit sepanjang 2,6 km ini. Bahkan sekarang ada Night Luge-nya juga, tapi saya belum pernah mencoba. Kapan-kapan deh, yuk? Hehehe.

Luge (Courtesy of skylineluge.com)
Night Luge (Courtesy of skylineluge.com)
Dulu, 1x Ride Luge + Skyride harus membayar $15 dan untuk next-ride ke-2 cukup membayar $8. Sebuah diskon yang menggiurkan! FYI, take the Skyride to the top of the Luge trails then Luge down. Begitu. Nah, sekarang tiketnya berubah, combo, 2x ride + skyline kita diharuskan membayar $23.50. Yang artinya lebih mahal 50 Cent daripada tiket terdahulunya. Ini semua pasti salah Jokowi! 



Bagi yang tidak mau mencoba Luge, bisa juga cuma naik Skyride-nya doang. Sekali jalan (one way up) $11, Skyline bakal membawa kamu ke "atas" tepatnya di starting point Luge, disekitar Sentosa Station, persis di sisi utara Madame Tussauds. Kalau mau bolak-balik $18. Tapi, sungguh sayang ke Sentosa tidak mencoba Luge. Hehehe. Oya, baiknya titipkan tas, tinggalkan masa lalu gadget kalian dan nikmati keseruan downhill dengan Luge!

Skyline (Courtesy of Tristan Tan/Shutterstock)
Usai dengan segala kegembiraan dan keseruan Luge, mari isi perut lagi. Its time for the one and only, Old Chang Kee! Mengantongi Halal Certified, Old Chang Kee menjual berbagai macam gorengan ala-ala. Tentu saja tidak ada combro, bakwan apalagi tempe mendoan. Pilih saja yang kalian suka karena menurut saya tidak ada yang tidak enak disini. Semua enak dilidah! Yah, paling kalau kebanyakan jadi tidak enak di dompet.

Dipilih-dipiliiiih~
#AbaikanMukaSaya
Setelah kenyang, saya buru-buru menuju Beach Station untuk naik Sentosa Express kembali ke Vivo City. Dari Vivo City tentu saja saya guling-guling turun ke lantai dasar menuju stasiun MRT Harbour Front. Tujuan saya adalah stasiun MRT Bayfront sebagai "pintu masuk" menuju Garden by The Bay. Sebenarnya, Harbourfront dan Bayfront terhubung langsung oleh MRT jalur kuning Circle Line. Tapi kita harus memutar 29 stasiun karena Harbourfront berada di ujung akhir Circle Line dan Bayfront ada di ujung awalnya. Maka saya naik MRT jalur ungu North East Line menuju Chinatown dan berganti ke jalur biru Downtown Line menuju Bayfront.


Tujuan utama datang ke Garden by The Bay adalah Garden Rhapsody. Sebuah pertunjukan lampu spektakuler di Garden by The Bay dimana kita akan melihat pohon "avatar" berkelap kelip mengikuti irama lagu. Dari pintu keluar stasiun MRT Bayfront carilah arah pintu masuk menuju Garden By The Bay yang melalui Dragonfly Bridge.

Google Maps
Ya, mengacu google map, maka sebelah kiri dari Dragonfly Bridge adalah pemandangan Marina Bay Sands. Pada sisi kanan tentu saja Garden By The Bay, dan sisi utara atau bagian atas peta nanti kita akan melihat Singapore Weels dari kejauhan. Maka tidak heran biasanya banyak pelancong dan fotografer menyempatkan berfoto berlama-lama di area ini. Dibawah ini adalah penampakan dari Google Street View, biar lebih jelas betapa pentingnya Dragonfly Bridge untuk instastory kalian. Silakan klik, putar, drag, atau navigasikan sesuka kalian map dibawah ini!




Begitu sampai di Garden by The Bay, usahakan untuk segera mencari spot untuk menonton pertunjukannya. Pilih saja. Semua pelancong juga akan melakukan hal yang sama. Siapa cepat dia dapat. Paling menyenangkan apabila bisa mendapatkan spot di area berumput dimana kita bisa rebahan.


Supertree Groove
Garden Rhapsody yang berlokasi di Supertree Groove ini berdurasi 15 menit dan dimainkan pada pukul 19:45 dan 20:45 setiap malamnya. Malam jumat kliwon juga tetap tampil! Konon ada sekitar 50 speaker tersembunyi yang membuat musik dalam show ini semakin megah. Lagu yang diputar biasanya instrumental, terkadang mereka juga memutar lagu oldies, irama khas Tiongkok, Melayu, dan dangdut koplo pantura lain-lain. Dan yang paling berkesan adalah selama bulan Mei. Merayakan May 4th, maka Garden Rhapsody akan memutar lagu-lagu bertema Star Wars. "May the 4th be with you!"



Oya, sebelum atau sesudah Garden Rhapsody, bagi yang ingin melaksanakan sholat, terdapat mushola di area Superdining Tree. Lokasinya dekat dengan Texas Chicken. Terdapat beberapa sandal yang bisa digunakan untuk berwudhu. Lokasi wudhu menyatu dengan area di sekitar toilet.



Dari area Supertree Groove, saya berjalan ke utara, melalui Flower Dome. Jika tidak ada GPS, petunjuk jalan di Garden by The Bay ini sangat banyak. Saya keluar melalui Waterfront West Gate menuju Helix Bridge. Kira-kira begini.



Kenapa tidak kembali melalui stasiun MRT Bayfront? Menikmati suasana Helix Bridge, Singapore Science Museum, Esplanade dan Singapore Flyer pada malam hari itu lebih penting dari betis yang mulai nyut-nyutan setelah berjalan seharian. Hahahaha semua itu tentu saja demi postingan medial sosial, my friend!

Singapore Flyer dari Waterfront West Gate
Helix Bridge, Marina Bay Sands, ArtScience Museum
Dari Helix Bridge ambil jalan kiri dan berjalanlah menyusuri jalan disepanjang The Float @Marina Bay, atau melewati langsung melewati Raffles Ave. Nanti di seberang Esplanade, terdapat halte bus Esplanade Bridge. Dari situ naik bus 130 menuju Victoria Street tepatnya di halte Bugis Stn Exit A. 


Tujuan saya ke Bugis+ untuk makan di Encik Tan, sebuah waralaba masakan peranakan yang tentu saja mengantongi Halal Certified. Encik Tan termasuk waralaba besar yang tersebar di seantero negeri, mudah sekali menemui Encik Tan di pusat-pusat keramaian. Harga makanannya mostly disekitaran $5. Dalam kunjungan yang sebelum-sebelumnya saya pernah mencoba Fishball Noodle, Laksa, Wanton Noodle dan semuanya enak. Tapi hari ini saya mau makan nasi!


Fried Prawn Set seharga $5 berisi udang goreng tepung, telor ceplok, sayur kubis dan nasi siram kuah kari. Penyajiannya mirip dengan standar penyajian nasi padang di tanah air. Jika ingin nambah lime juice tinggal tambah $1.

Rice Set Menu
Fried Prawn Set
Setelah perut kenyang, saatnya kembali ke penginapan. Jalan kaki sedikit menyeberang ke Parkview Square dan naik bus 851 tujuan Chinatown, turun di depan penginapan! Hari pertama dicukupkan dan petualangan dilanjutkan pada hari esok. Lanjut ke postingan berikutnya ya!

Empty Bus


Bersambung di Part-2...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Instagram